Analisa Situasi dan Kondisi RISKA

Analisa Situasi dan Kondisi RISKA (saat ini)

oleh : irham maulana

RISKA, tadinya adalh sebuah organisasi kepemudaan berbasiskan dakwah yg sempat Booming, menjadi fenomenal di kalangan remaja, orang tua, bahkan tokoh masyarakat dari berbagai Lapisan di Ibu kota Jakarta, tidak hanya di ibukota, nama besar RISKA pun sempat melejit dan menjdi harum di pulau Jawa, diseluruh Indonesia, bahkan sampai menembus pasar internasional ke wilayah Asean (Asia tenggara), berangkat dari sebuah kontribusi dan keinginan yg kuat pada masa itu utk membangun sebuah komunitas remaja bergengsi di wailayah pusat jakarta, di kawasan menteng tepatnya, Menjadikan RISKA adalah sebuah magnet kuat yg menarik hampir seluruh warga jakarta utk berbondong2 datang ke RISKA (masjid sunda kelapa) tidak pandang usia, pekerjaan, status, akhlaq, pandangan, bahkan yg berbeda agama sekalipun sangat interest dengan sebuah komunitas remaja bergengsi bernama RISKA.

Namun lambat laun RISKA melewati berbagai proses kehidupan, mengalami masa2 transisi yg diisi dengan campur tangan aspirasi yg terdapat di dalamnya dalam membuat sebuah perubahan, entah perubahan itu membawa sebuah kebaikan, atau malah menjerumuskan ke dalam keterpurukkan, semua punya hal berpendapat, dan semua berhak mengajukan pendapatnya, dan ada saatnya dimana pendapat dan gagasan tersebut direalisasikan, sehingga membawa sebuah perubahan besar yg terdapat di dalam kubu RISKA itu sendiri, diantaranya perubahan kultur, suasana, hawa, energi, semangat, orientasi, dan perubahan2 lain yg dilihat dari kacamata bang Faizal Motik sebagai pendirinya adalah sebuah kemunduran pasif, namun dilihat dari sudut pandang syariat islam ini dalah sebuah kemajuan darastis.

Saat ini RISKA periode akhir 90an dan masa 2000an memiliki sebuah sikap dilematis, bila saja dibandingkan dengan masa2 kejayaan dekade 70-80an, mendapat tudingan2 miring dari sekelompok orang yg menginginkan Reinkarnasi RISKA, dan juga dari para petinggi2 RISKA yg berhasil di bidang dakwah tarbiyah dan juga politik dan bisnis, namun banyak juga yg menginginkan RISKA utk mempertahankan khasnya yg sekarang utk dibawa pada masa mendatang, diantara simpang-siurnya keinginan para tokoh dibalik nama besar RISKA tempo doeloe, ada yg menginginkan sebuah perubahan yg lebih baik, namun juga tidak mungkin bila menjadikan RISKA seperti yg dulu (70,80,90an) krn terdapat beberapa faktor eksternal yg tidak memungkinkannya sebuah perubahan Reinkarnasi RISKA itu tejadi, yg diinginkan adalah sebuah perpaduan dari kultur RISKA yg dulu dengan RISKA masa kini.

Diantara aspirasi2 kecil yg menginginkan perubahan dan revolusi RISKA, masih ada di dalam mekanisme RISKA sebuah campur tangan dan konspirasi yg kerap kali menghalangi aspirasi2 ajaib itu masuk kedalam Nurani RISKA, yg bagi sebagian orang mengatakan ini adalah permainan birokrasi yg harus dilewati utk sebuah Azzam berhak utk mendapatkan hak veto dalam memberikan pendapat atau gagasan yg brilian.

Namun kita semua harus menerima kenyataan, diakhir periode tahun 2008 ini RISKA masih memiliki kecacatan permanent yg berawal dari kurang tegasnya para dewan pengambil keputusan membuat kebijakan baru yg dimulai pada awal tahun 2000an, sampai saat ini kecacatan itu masih nampak dari segi kultur ruang lingkup RISKA, yg apabila dibiarkan akan melunturkan semangat koordinasi dalam berdakwah ala RISKA.

Organsasi RISKA pada saat ini, tak lebih hanyalah sebuah organisasi yg mirip intra sekolah (OSIS) yg harus tunduk pada keputusan Kepala sekolah yaitu dewan pengurus Masjid, yg dengan leluasa sering menggunakan kebijakan dan wewenangnya dalam mengambil keputusan yg lebih banyak menguntungkan masjid dan kurang menguntungkan RISKA, bahkan lebih banyak merugikan, padahal Masjid Sunda Kelapa tidaklah lebih hanya Masjid pemerintah yg tumpul daya tariknya apabila bukan karena nama Besar dan Kegiatan RISKA, dan sekarang Masjid Sunda Kelapa jauh lebih melejit namanya karena dongkrak nama Besar RISKA (pada masa itu), dan diawali kebijakan Pengurus Masjid yg berani menyolong start dgn mengadopsi beberapa kegiatan RISKA menjadi agenda rutinya dan dikelola secara professional, pengurus RISKA pun tidak merasa keberatan dan tidak terlau diambil pusing, dikarenakan pelaku sejarah yg mengangkat nama MASK krn kegiatan RISKA sudah jarang tampil, bukan krn tidak perah muncul, namun jg krn kurang membaurnya antara pengurus aktif RISKA dengan para alumni, dan juga kebijakan pengurus RISKA yg tidak memberikan akses utk alumni2 pelaku sejarah tersebut mengambil tindakan tegas utk memprosesnya sesuai standar prosedur organisasi kedua pihak, puncaknya pada saat kebijakan pengurus RISKA yg meng’amin’kan keinginan MASK utk memindahkan kedudukan RISKA dalam struktur organisasi MASK menjadi turun level pindah di bawah bidang sosial MASK, sehingga RISKA sudah tidak punya lagi kekuatan diplomatik di dalam dewan parlemen kepengurusan MASK, sehingga dalam kegiatannya RISKA harus melewati prosedur dan lintas birokrasi ala MASK, sehingga semakin menurunkan citra RISKA dimata para pengurus MASK, bukan hanya itu, bahkan sampai karyawan2 MASK dikantor atau lapangan perlahan2 diajarkan melihat RISKA dengan sebelah mata, meskipun ada dibalik struktur MASK adalah pelaku sejarah kebangkitan RISKA pada masa lampau.

RISKA sekarang, kini masih menyisakan sisa2 dari kultur kebijakan di masa2 transisi kemunduran pasif, banyak kemunduran2 pasif yg disebabkan bukan hanya dari faktor luar Organisasi, namun banyak yg sejatinya kemunduran itu juga dari kebijakan bad strategy yg dirancang pada masa kepengurusan berdekatan, dampaknya pun masih terasa dan masih sangat melekat terutama di dalam individu RISKAder itu sendiri, masih adanya RISKAder yg datang ke RISKA hanya utk kepentingan sendiri, bukan utk kepentingan RISKA, masih adanya RISKAder yg datang ke RISKA utk kpentingan kelompoknya dibandingkan kepentingan RISKA, masih banyak RISKAder yg datang ke RISKA hanya utk kepentingan departemen, bukan utk kepentingan RISKA, padahal mereka semua sudah mengikat komitmen & berkontribusi utk RISKA, bukan utk diri sendiri, kelompok, departemen, divisi, atau biro, sehingga dengan orientasi yg belum lurus dari setiap individu RISKA ini berdampak cukup fatal utk mekanisme kegiatan organisasi di RISKA, akibat2 yg nampak di dalam lingkungan RISKA itu sendiri, adalah meningkatnya rasa individualisme RISKAder yg berbeda kepentingan saat berada di dalam lingkungan RISKA, sehingga banyak yg tidak kenal antara rekan2 di kelompok A dengan kelompok B, antara departemen A dengan departemen B, dan semakin besar tembok yg memisahkan antara RISKAder satu dengan yg lain, sehingga sangat sulit utk membaur dan bersosialisasi dengan kelompok yg lain, atau organisasi lain di dalam organisasi RISKA, walaupun ada yg membaur hanya ada beberapa, munkin krn sifat asli orang tersebut yg tebiasa bersosialisasi, atau krn ada pendekatan secara intensif dari BPH atau mentornya.

Sehingga bukan tidak mungkin akan mempersulit dalam berkoordinasi antara satu orang dengan yg lain, antara kelompok dengan yg lainya, dan membuat Bendera RISKA berkibar dengan tegap diujung tiang, sementara di bawahnya tiang keropos krn sulit sekali utk disatukan dengan berbagai macam alasan, banyak yg tidak kenal satu sama lain. salah satu contoh sulitnya RISKAder utk saling bersatu adalah semakin banyaknya pengabdi depatemen tertentu yg tidak pernah keluar dari zona aman nya dan tidak mau terlalu berkomitmen lebih mendalam utk RISKA, namun hanya utk departemen semata, contoh berikutnya adalah nama belakang sahabat RISKA yg melekat dan identik menjadi identitasnya di RISKA, contoh nama si fulan depatemen, atau si irham SDIS, atau eko fotografi, (kecuali amanah yg diberikan pd saat itu) dan contoh2 lainya yg sudah menjadi sangat identik di lingkungan RISKA, dan banyak BPH beranggapan bahwa yg sperti itu biasa saja di lingkungan RISKA, dan sudah dianggap sebagai sunnatullah, padahal ini adalah salah satu kecacatan permanent di dalam lingkungan RISKA dan tidak ditindak dengan serius.

Kalau diibaratkan sebuah kapal laut, RISKA bagaikan kapal Titanic yg sudah menabrak gunug Es, yg belum ditanggapi secara peka dan serius oleh para penumpang ataupun awak kapalnya, namun benderannya masih berkibar dengan tegap, apabila tidak diambil tindakan tegas, maka perlahan2 kapal akan bocor dan tenggelam, sementara di aula utama penumpang bangsawan masih menikmati malam terakhirnya dengan hura2 dan menari2 di lantai dansa. inilah kodisi terakhir RISKA, banyak kecacatan2 di dalamnya namun belum juga disadari kalau banyak metode yg keliru dan malah menjadi boomerang, namun masih saja tidak peduli dengan situasai yg mengancam, banyak element di dalam RISKA yg tidak sinkron antara kemasan dengan isinya, antara bentuk dengan rasanya, banyak perbedaan dengan yg dilihat dengan yg dirasakan, itu tandanya sumbu dinamit di dalam kubu RISKA telah tersulut oleh api penerapan yg salah, yg lambat laun akan meruntuhkan sifat asli RISKA secara pelan2 dari dalam.

Diantara kekeliruan2 yg belum disadari oleh semua element pengurus adalah nama besar RISKA, segmentasi RISKA, kultur RISKA, dan visi-misi RISKA yg memiliki taste yg berbeda bila dibandingkan dengan organisasi dakwah yg lain, da apa maksud dan tujuan utama di balik nama besar RISKA belum dipahami oleh pengurus2 RISKA yg telah berkomitmen utk berdakwah ala RISKA. dari segi segmantasi RISKA memiliki kualifikasi tertentu, dari usia, hobby, keimanan, pemahaman, kebudayaan, cara pandang, pola pikir, dan minta dari segmentasi RISKA yg hampir tidak dijaga keasliannya,dari sisi usia pun RISKA sepertinya bnyak yg belum paham dengan kata “Remaja” yg sebagai kata dan arti primary dalam kata RISKA, banyak usia yg jauh diatas rata2 usia remaja, namun ini dianggap biasa2 saja oleh para pengurus dengan alasan tidak ada hambatan atau kata terlambat utk orang yg mau belajar Islam, berapapun usianya diterima, tidak sesuai dengan segmentasi sebenarnya 14-27th.  dan terutama juga cara penerapan dan penyampaian dakwah yg masih saja kaku, tidak ada bedanya dengan organisasi dakwah lainnya, tidak ada kesesuaian antara penerima dengan pengelola, yg diawali dari sebuah miss komunikasi dan kurangnya koordinasi antara sesama pengurus RISKA, adanya ketidak cocokan orang marketing dengan dengan HRD, tidak ada ketidak kecocokan yg direkrut dengan yg diajarkan sehingga keruntuhan peserta di dalam setiap departemen pada masa2 akhir perkuliahan dianggap wajar, sunnatullah, dan seleksi alam, padahal yg berjatuhan tersebut banyak yg membawa kesan buruk ketika angkat koper dari persinggahan RISKA lebih awal dari waktu yg ditentukan, dan itulah yg belum disadari dan dirasa wajar utk proses seleksi alam.

Terakhir RISKA mengusung motto “Remaja Islam yg Punya Gaya”, sebuah tanda tanya besar dari motto manis yg diusung namun belum dan tidak sesuai ketika masuk ke dalamnya, munkin sampai saat ini BPH RISKA banyak yg belum paham dalam arti sesungguhnya maksud dan tujuan yg terkandung dari dalam motto tersebut. Remaja Islam yg Punya Gaya, maksudnya adalah kalau RISKAder dalam berdakwah memiliki gaya masing2 dalam menyampaikan dakwah islam dengan berbagai metode, strategi, warna, dan variasi lainnya, tidak hanya dengan mimbar2 atau forum2 pengajian yg dianggap sangat kaku dan tabu bagi sebagian besar orang2 yg katanya islam, dan ini hanya dimiliki oleh RISKA, sebgai pelopor pergerakan dakwah yg mudah diterima oleh semua unsur element masyarakat jakarta yg beragama islam namun masih (sekuler) dalam pola aktivitas rutinnya, kalau RISKA masih menggunakan cara lama dengan forum2 dan mimbar2 kajian, apa bedanya RISKA yg katanya “punya gaya” dengan organisasi dakwah yg lain? karena itulah kita dituntut utk bersosialisasi dan mudah membaur atau bergaul di ligkungan2 yg baru, sekarang kalo kita lihat ke dalam RISKA, jangankan membaur ke masyarakat (sekuler) utk dakwah fardyah, utk mengenal satu dengan yg lain di dalam lingkungan RISKA apa lagi membaur dengan kelompok yg lain saja masih enggan dilakukan oleh RISKAder, bgmna utk bersosialisasi dengan masyarakat luas atau menyusup dengan tujuan dakwah islam ke lingkungan2 yg jauh dengan syariat islam?

Inilah salah satu gambaran singkat ttg kondisi RISKA pada saat ini, masih banyak bila dikupas lebih detail, diantaranya hobby pengurus RISKA yg paling sering adalah, rapat, meeting, buat konsep, rencana, rencana, rencana, sejuta rencana brilian dan ide kritis telah membuahkan konsep matang, digarap dengan aspirasi2 kritis, namun ditangah jalan mampet, tanda banyak RISKAder yg lebih bermental manager bukan mental teknisi atau staff, yg hanya mengandalkan orang lapangan utk pelaksanaanya, kalau tidak ada teknisi yg paham dengan maksud master plan sang manager, maka kegiatan mandeg ditengah jalan, bahkan mentah,& kembali dibekukan supaya gak busuk, salah satu faktor lagi2 faktor komunikasi dan koordinasi, maksud manager dan teknisi disampaikan melalui media komunikasi yg mandeg krn kurangnya bersosialisasi, dan juga dengan kebiasaan sikap konspetor yg tdak turun ke lapangan langsung, sehingga di RISKA menelurkan banyak komentator daripada operator, sehingga lebih banyak yg mau memberikan ide-idetanpa aplikasi langsung, dan lebih banyak yg ingin berkomentar daripada melaksanakannya secara langsung, sehingga bukan tidak mungkin media milis menjadi tempat adu argumen atau berdebat.

Secara keseluruhan inilah gambaran singkat tentang kondisi RISKA pada  saat ini, harapan ke depan RISKA dan RISKAder terutama bisa orientasi lebih berkontribusi jauh lebih berkomitmen utk RISKA bukan orientasi kontribusi utk kelompok dan dirinya sendiri saja, atau ada maksud tersendiri sehingga pelan2 belajar mencicipi apa yg terdapat dibalik kontribusi dakwah di RISKA, yg popularitasnya mengalahkan jabatan, kedudukan, dan harta, yaitu mendapatkan jodoh (utk dinikahkan) sebagai hadiah dari hasil kontribusi dakwah utk mencari sunnah. Wallahu’alam bishoab….

Wassalamu’alaikum

irham maulana
depok, 20 nov 2008
18:31

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: