ternyata dunia begitu sempit…

Sabtu 19 april 2008.

Pagi itu masih sangat belia, diantara jalanan yg masih terlihat sepi, nampak akhir pekan itu masih dimanfaatkan bagi sebagian orang utk bersantai-santai dirumah, tidak seperti hari biasanya, jalanan nampak begitu ramai dan padat dengan aktivitas rutin orang setiap harinya, diantara nikmatnya pagi itu, yang semestinya bisa dinikmati bersama keluarga dirumah, ternyata masih ada orang-orang yg harus merelakan waktu santainya utk beberapa keperluan ataupun menjemput rezeki yg telah ditetapkan Allah, diantara orangg2 yg sibuk tersebut, salah satunya adalah aku, yg harus berangkat pagi merelakan waktu berkumpul bersama keluarga, utk memenuhi permintaan sahabatku menjadi stand guide buku di sebuah training ESQ eksekutive di JCC senayan.

saat berpamitan dengan kedua orang tua, mereka nampak heran dengan penampilanku yg tidak biasanya seperti seorang mahasiswa berusia 22th, melainkan seperti seorang ekseutif muda berusia 25th, krn pada saat itu aku dituntut utk berpakaian rapih, setelah perjalanan yg cukup panjang, dari rumah orang tuaku di daerah perumnas klender jakarta timur, menuju JCC senayan Jakarta selatan, akhirnya aku tiba di gedung mewah JCC sekitar pukul9 pagi.

saat aku baru meletakkan tas ranselku di meja security utk diperiksa, aku melihat ke arah stand buku ESQ Arga Publishing, tempat aku akan bertugas nanti, aku melihat 2 orang perempuan remaja putri, keduanya memakai kerudung rapih, dan satu lagi seorang pria tinggi berkulit agak gelap, berkacamata, dan membawa tas kecil menyelempang di sebelah pinggang kirinya, dia bernama akdes, aku terbiasa memanggil dia dengan nama mas akdes, krn usia dia 3th lebih tua dari aku, disamping dia sudah termasuk pria yg sudah mapan, dan matang, krn dia adalah marketing eksternal Arga Publishing, hanya saja dia belum juga menikah, dan hari itu aku beranggapan dia adalah bos aku di dalam menjadi stand guide freelance tersebut.

sampai di stand buku, aku langsung meletakkan tas ranselku di bawah meja stand, dan menyapa dan menyalami mas akdes, dan dua orang perempuan tersebut, yg masing2 bernama dewi dan intan, rekan kerjaku hari ini dan besok dalam menjaga stand buku ini, perempuan yg bernama dewi sudah aku kenal sebelumnya, krn pernah menjadi partner serupa pada taraining ESQ eksekutif januari lalu, sedangkan perempuan yg satunya lagi yg bernama intan, aku baru pertama kali melihat dia.

setelah mendapatkan arahan dari mas akdes utk tugas hari ini, aku langsung merapihkan, menghitung dan mendisplay buku yg dipajang ke atas meja stand seperti yg diminta mas akdes kepadaku, perlahan tapi pasti aku mendisplay buku2 tersebut semenarik munkin utk dipajang, setelah selesai aku sempatkan duduk di bangku di dalam stand tersebut, sekedar utk istirahat sejenak, krn perjalanan tadi cukup membuat otot2 dan persendian ini agak tegang, dan waktu baru menunjukkan pukul 9.45, sedangkan waktu break peserta training ESQ adalah pulul 10, masih ada waktu sekitar 15 menit utk beristirahat dan sambil kembali mengingat dan menghafal harga-harga buku yg dipajang, agar tidak canggung saat ditanyakan harga beberapa buku oleh para calon pembeli, yg tak lain mayoritas adalah para peserta training ESQ.

sambil membaca daftar harga yg terdapat di sebuah kerats di tangan kananku, aku membuka forum dan sekedar mengakrabkan hubungan dengan perempuan yg bernama intan, krn mau tidak mau dia adalah salah satu rekan kerjaku nanti.

“mba’ intan, sekarang kegiatannya apa?” tanyaku membuka percakapan yg masih terasa agak kaku tersebut.

“dirumah ajah, sambil nunggu rezeki, baru selesai kuliah akhir 2007 kmarin, jurusan psikologi UIN.”

“mas irham yg rumahnya di klender yah?” tanya intan ke padaku

“iyah, kok tau?, emangnya mba’ rmhnya dimana?” aku balik bertanya, percakapan itu masih terasa canggung, munkin krn baru kenal, namun lama kelamaan terbina sebuah keakraban anatara aku dengan dia. dan percakapan itu terus berlangsung, dan dari percakapan itu, aku mendapatkan beberapa informasi tentang dirinya, kalau dia rumahnya di daerah pondok kopi, yg letakya tidak jauh dari daerah rumah orang tuaku, dan dia bisa mendapatkan job ini dari seorang temanya yg kebetulan bekerja di salah satu bagian di perusahaan yg mengelola training ESQ, krn kebetualan dia masih menganggur, sehingga dia menerima tawaran job dari temannya, “itung-itung cari kesibukanlah mas, dari pada diam dirumah saja” lanjut dia menambahakan.

tak terasa percakapan aku dengannya semakin akrab, dan sudah tidak ada lagi tambahan kata “mas” atau “mba'” dalam setiap sapa, krn aku juga merasa tidak enak dipanggil dengan sebutan “mas” olehnya, krn usia dia 1th lebih tua dariku, tapi aku pantas dengan panggilan mba’ kepadanya, krn usia ku masih dibawahnya, tapi dia juga merasa canggung, dan aku pun juga merasakan hal yg sama.

dan kemudian keajaiban itu terjadi.

“Intan, loe dulu SMA nya dimana?” tanyaku menyambung percakapan yg sudah tidak lagi kaku.

“kenapa loe tanya2 sekolah gw? gak ada hubungannya kaleee….” jawabnya

“yah, munkin ajah gw tau SMA loe dimana, kan gw tau daerah sekitar rumah loe” lanjutku

“SMA 107” jawab intan singkat, “SMA 107 ???” tanyaku heran dan menegaskan, karna sma yg dia maksud tak lain adalah sma aku juga, tempat aku menyelesaikan masa sekolah.

“iyah, emangnya kenapa ?”

“107 angkatan berapa ?” tanyaku lagi

“2003, emangnya kenapa loe nanyain angakatan? ada yg loe kenal di 107 ?”

“yam ampyun bo’ itu mah SMA gw juga, gw angkatan 2005, gw adik kelas loe” lanjutku mencairkan suasana yg sempat kaku, kemudaian percakapan kami berlanjut dengan bercerita masa2 SMA diamana kami memiliki almamater yg sama di SMA, dibumbui canda dan tawa kami bercerita tentang suasana sekolah dulu, guru-guru, dan teman2 yg sama2 kami kenal beserta kebiasaan dan sifat2nya, dan dari akhir membahas masa SMA kami, dari mulut kami masing2 keluar kata2 “ternyata dunia begitu sempit”. dan intan sempat menambahkan, “pantesan, kayaknya gw gak asing dengan wajah loe, tadinya gw mo ngomong duluan, tapi nanti dibilang so’ kenal so’ dekat lagi”, intan menambahkan. dan aku menyeletuk di akhir percakapan dengan kalimat “ternyata dunia begitu sempit”.

setelah itu karna waktu menunjukkan tepat jam10 pagi, kami semua yg berada di stand itu bertugas melayani para customer yg tak lain adalah peserta training ESQ eksekutif, yg telah keluar utk coffe break, dan percakapan anatara aku dan intan terhenti sementara krn harus melayani custumer yg melihat, membaca, bertanya, dan membeli buku yg mengerubungi stand tersebut. setelah pukul 10.30 waktu break peserta training telah habis, semua peserta kembali memasuki hall cendrawasih JCC, krn training ESQ akan dilanjutkan, dan kami pun para penjaga stand kembali dapat beristirahat, sambil menghitung jumlah pemasukkan sementara dari penjualan hari itu.

disela2 waktu istirahat itu kami ber2 melanjutkan ngobrol2 yg sempat terputus krn coffe break, dan aku memulai percakapan tersebut dengan bertanya terlebih dahulu.

“btw SMP loe dimana? jangan2 SMP loe samaan juga lagi sama gw…”tanyaku membuka percakapan

“kenapa loe tanya2 SMP gw? gak munkin lah samaan kayak loe, kan SMP gw lumayan jauh dari SMA gw.”

“emangnya dimana?” lanjutku penasaran

“di toegalan (139).”

“SMP 139 ?” tanyaku semakin penasaran dan mempertegas jawabannya

“iyah, kenapa? samaan juga?” intan balik bertanya

“ya ampyun…. bo’ “celetukku

“kenapa ? samaan lagi ?” intan bertanya semakin penasaran, belum aku menjawab, dia sudah tertawa cekikikan sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

“iyah, SMP gw 139 juga, gw adik kelas loe juga di SMP” lanjutku mempertegas penasaranya, dan intan pun semakin tertawa geli dan cekikikan, dan tiba2 dia duduk ke bawah dengan kedua dengkulnya menyentuh lantai dan menahan perutnya dengan tangan kiri, dengan kepala menunduk dan tangan kana menahan suara tawa dari mulutnya, pertanda dia semakin tidak tahan menahan tawa yg sampai mengoyangkan syaraf2 di perutnya.

ditengah keakraban aku dengan intan, dewi yg dari tadi menghitung jumlah penjualan cuma bisa tersenyum kecil melihat keakraban itu, dan utk kedua kalinya aku mengungkapkan kalimat “ternyata dunia begitu sempit”. Lirih ku pelan.

sambil melanjutkan negobrol2 aku denagn intan, yg membahas topik masalah seputar SMP, tentang masa2 SMP yg masih dalam masa pertumbuhan dulu, tentang diamana kami memiliki almamater yg sama di SMP, dibumbui canda dan tawa kami bercerita tentang suasana sekolah dulu, guru-guru, dan teman2 yg sama2 kami kenal beserta kebiasaan dan sifat2nya, dan dari akhir membahas masa SMP kami, dengan diwarnai canda tawa keakraban, semakin cair dalam suasana nostalgia masa SMP.

Ditengah-tengah kami ngobrol2 tentang masa SMP, kemudia aku kembali bertanya dimana dia SD dulu.

“oh iya, btw SD loe diamana? jangan2 samaan juga lagi?”

“ah’ gak mungkin lah, di malaka jaya itu SD ada banyak, gak mungkin dunia sesempit itu” jawabnya singkat, malaka jaya adalah nama kelurahan daerah tempat tinggal aku dan sekolah TK, SD, dan SMP aku dulu.

“eamngnya dimana SD loe? mungkin aja kan…” tanyaku lagi

“di SD 11…” jawabnya singkat

“SD 11??? SDN Malaka Jaya 11pagi?? ” tanyaku mempertegas jawabanya.

“iyah, emangnya kenapa?” jawabnya agak heran, tanpa ada feel aku akan menjawab kalo SD nya sama

“SD 11 yg diapit antara 2 gereja dan disebelah SLB? dan di belakang 139????” tanyaku semakin mempertegas.

“iyah, kenapa? samaan juga lagi SD nya?” tanya intan menjadi penasaran

dan memang benar, ternyata kita melewati jenjang sekolah dasar di SD yg sama, dan kemudia aku mejawab

“iyah SD 11, yg penjaga sekolahnya buka warung di belakang, yg guru paling galak Pak Usman, yg sangat khas dengan kumis tebal dan cubitan pedasnya, loe tau kan?” tanyaku lagi.

belum sempat dia menjawab, utk yg kesekian kalinya di kembali tertawan cekikikan dan agaka terbahak2 namun suaranya di tahan dengan ditutup tangannya, dan tertawanya kali ini lebih geli dari tertawa2 yg sebelumnya.

“hahaha…. yam ampyun bo’ gak nyangka loe adik kelas gw lagi di SD” jawabnya sambil tertawa kecil, wajahnya yg putih menjadi tampak kemerahan krn pengaruh tertawa yg cekikikan.

dan pembicaraan dilanjutkan lagi dengan membahas masa2 SD kami, tapi tidak sehafal ketika membahas masa SMA, dan SMP, krn ingatan yg terbatas, dan juga sudah agak lama, dan lagipula kita juga hampit gak pernah mampir atau sekedar melihat keadaan SD kami, krn guru2 yg mengajar kami dulu sudah tidak lagi mengajar disana, krn sudah dimutasi ke sekolah yg berbeda, krn salah satu proses dari sistem pengajar SD negri, sehingga kita pun juga enggan utk mampir, krn sudah tidak ada lagi yg kita kenal, tidak seperti di SMP atau SMA, meskipun 10 tahun lebih, pasti masih ada beberapa orang yg kita kenal yg masih mengabdi di sekolah tersebut, entanh masih berstatus sebagai pengajar, pengelola, karyawan, ataupun para penjaga2 kantin yg masih sangat akrab bila kita nerkunjung ke SMP atau SMA kita dulu.

dan tanpa terasa keakraban semakin terbina diantara kita, padahal kita baru saja berkenalan hari itu juga, dan belum selesai kami bercerita masa-masa SD, kemudian aku kembali bertanya ke dia.

“oh iya, btw TK loe dimana? bisa aja kan ternyata TK kita samaan, kan di Malaka Jaya TK cuma sedikit, gak kaya SD, diaman TK loe? ” tanyaku cukup jelas

“ah yg bener aja loe, masa sich TK bisa samaan juga”

“yaa… munkin ajah, diamana TK loe?” tanyaku kembali

“di TK Aisiyah” jawabnya singkat.

“TK Aisiyah??????” tanyaku dengan penuh keheranan dan takjub

“kenapa? samaan lagi?”intan kembali bertanya

aku tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala sambil tesenyum, prtanda aku mengiyakan pertanyaannya, dan, utk kesekian kalinya intan kembali tertawa dengan kehebohan yg menjadi-jadi, dan semakin tidak tahan dengan tertawanya, dan aku pun juga tidak menyangka, kalau orang yg baru saja aku kenal ini adalah teman sekolah aku dulu, ya’ teman sekolah di TK, SFD, SMP, dan SMA, hanya saja kuliah di tempat yg berbeda, dan utk yg ke 4 kalinya aku berkata agak kencang, krn takjub dengan takdir ini…

“ternyata dunia begitu sempit….”
itulah kata-kata yg keluar dari dalam hati, entah apa yg ada di dalam pikiranku pada saat itu, yg jelas aku sempat berfikir sampai sekarang, kejadian ini adalah sebuah kebetulan atau bukan, yg jelas, semua ini adalah takdir yg sudah ditentukan oleh Allah kepada kita, dan ini adalah pengalaman berharga aku yg pertama kalinya, entah mungkin aku akan mengalami hal ini utk yg kedua kalinya atau utk yg kesekian kalinya, hanya Allah lah yg maha mengetahui dari segala keraguan dan pertanyaan dalam hati.

semoga di akhirat nanti aku dipertemukan dengan orang2 yg selalu senantiasa saling merindukan indahnya silaturahmi. amin.

2 responses

15 03 2010
kusumawaty

hihihih sama gw jga alumni sdn 11 ma alumni toegalan

25 01 2011
Plassekaw

awal yang baik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: